Mari berhitung, bersamaku. :)
Aku akan memulai lebih dulu, baru kemudian ikutilah dan berhitung bersamaku. :)
Aku ingin mendengar suaramu.
Ya, bagus.
Sedikit lebih keras bisakah?
Baiklah itu sudah cukup.
Aku suka mendengar suaramu! :)
Aku akan memulainya. Sudahkah kau siap?
Ya. Ya. Tenang saja, aku akan menunggumu bersiap dulu. :)
Aku hanya memandangi punggungmu yang menjauh saat berpamitan sebentar.
Aku ketakutan,
takut kau tak kembali untuk melanjutkan kisah ini denganku.
Ah, tapi aku menarik napas lega saat kamu ternyata kembali.
Baik, kau siap untuk melanjutkan?
Oh iya, aku sudah pernah bilang padamu?
Kau terlihat tampan hari ini.
Hei Hei! hahaha... iya aku tahu kamu geli jika aku bicara seperti itu.
Tapi aku hanya berusaha jujur! :)
Sudahlah, berhenti menggelitiki aku dan mari kita mulai. :)
Ayo berhitung. Denganku, Bersamaku. :)
Satu!
Aku suka mendengar suaramu yang lantang dan bersemangat. Ayo kita ulang. SATU! :D
Baiklah, kamu menguasainya.
Intonasimu tepat!
Selanjutnya adalah Dua!
Aku tersenyum lebar saat melihatmu masih mengikutiku dengan mudah. aku masih memintamu untuk menggandeng tanganku dan berhitunglah bersamaku.
Tiga!
Bagus! Aku bersemangat. Kau mampu belajar dengan cepat! Aku bangga padamu!
Empat!
Baiklah, aku melihat kau mulai kesulitan disini.
volume suaramu turun. sayang sekali. Tapi sepertinya aku yakin kamu akan lebih baik pada pelajaran selanjutnya. Jadi mari kita lanjutkan! Masih bagus kok! Tetaplah berusaha! :)
Lima!
Hei! Kemana suaramu?? Ayolah... keraskan sedikit!
Enam!
Ayolah.. jangan mulai seperti ini... apa salahku ?
Mengapa kau diam sementara aku masih berlanjut menghitung?
-kuingin kembali.. sperti dulu lagi.. slalu bersama, slalu berdua..-
Hei! matikan radio itu!
Tujuh!
Tolonglah... tidakkah kau melihat aku mulai kehabisan suara?
tidakkah kau melihat napasku mulai sesak?
tidakkah kau melihat aku menangis ketika merasakan diammu?
ayolah.. kita sudah berjuang sejauh ini...
bila kau tak siap mengapa tak membicarakan ini dari jauh sebelumnya??
jadi aku tak harus menghabiskan pikiranku bagaimana membuatmu menghitung bersamaku!
Tolonglah...
jangan paksa aku mengakhiri semua...
jangan paksa aku kembali mematahkan hatiku sendiri...
jangan paksa aku untuk memandangi wajahmu setiap hari, dan menyadari kau bukan milikku lagi...
tolonglah...
tolonglah...
:'(
Be Careful of Your Pointer! =D
Labels
- =D (19)
- Bocoran Proyek (1)
- Campaign (1)
- CeRpenD... (9)
- FeeLin9zzz (45)
- GiLa-GiLaanD (46)
- Impian (7)
- Iseng (9)
- just for fun (22)
- Liburan (6)
- Love Expression (14)
- Lyrics (5)
- mimpi (4)
- PuiSi... ^^ (10)
- Resensi Buku (4)
- sakidt hati... (19)
- seram (2)
Senin, 06 Juni 2011
Kotak - Cinta jangan Pergi.
Cinta jangan pernah kau coba pergi..
karena dsini ku bth kamu.
Cinta jangan pernah kau coba lari..
karena disini kuingin kamu.
aku tak bisa bayangkan
bila kau tak ada disini.
aku tak habis pikirkan
bila kau tak lagi temani aku.
aku tak bisa bayangkan
bila kau tak ada disini
aku tak habis pikirkan
bila kau tak lagi temani aku..
cinta jangan pernah kau coba pergi
karena dsini ku butuh kamu..
cinta jangan pernah kau coba lari
karena disini kuingin kamu..
cinta jangan pernah kau coba pergi
karena dsini ku butuh km
cinta jgn pernah kau coba lari
karena disini kuingin kamu..
:')
karena dsini ku bth kamu.
Cinta jangan pernah kau coba lari..
karena disini kuingin kamu.
aku tak bisa bayangkan
bila kau tak ada disini.
aku tak habis pikirkan
bila kau tak lagi temani aku.
aku tak bisa bayangkan
bila kau tak ada disini
aku tak habis pikirkan
bila kau tak lagi temani aku..
cinta jangan pernah kau coba pergi
karena dsini ku butuh kamu..
cinta jangan pernah kau coba lari
karena disini kuingin kamu..
cinta jangan pernah kau coba pergi
karena dsini ku butuh km
cinta jgn pernah kau coba lari
karena disini kuingin kamu..
:')
Categories
FeeLin9zzz,
GiLa-GiLaanD,
Lyrics,
sakidt hati...
:/
Secara tidak sadar, seseorang yang menyakitimu akan membuatmu lebih KUAT!
ketika seseorang menangis, itu bukan berarti dia lemah. dia hanya sudah terlalu lama KUAT!
Tata sudah mendengar segalanya itu berkali-kali. Tata tahu. Tapi tetap saja, Tata muak dengan segalanya.
"I've lost count of my tears, Kaf!" serunya kesal saat Kafka kembali mengeluarkan jurus kata-kata bijaknya. Kafka terdiam. "Lantas... Apa yang bakal kamu lakuin sekarang, Ta?" tanya Kafka. Ganti Tata yang terdiam.
"Aku tau, Ta. Aku kenal kamu sejak bertahun-tahun yang lalu! Aku tau kamu kuat, jauh lebih kuat dari ini," ucapan Kafka terasa menusuk hati Tata. "Aku kuat? Bagaimana kamu bisa yakin dengan itu sementara aku sendiri nggak tahu bakal bertahan sampai kapan?" sergah Tata. Sinar matanya berapi-api, namun tampak secercah sakit hati di dalamnya.
"Kan tadi sudah kubilang. Aku kenal kamu. Aku tahu persis dimana batas kekuatan kamu, dan aku tahu benar bagaimana jalan pikiran kamu. Hanya masalah kamu kesal seperti ini, dan kamu sudah mau mundur? Hahaha... sejak kapan kamu jadi Tata yang cengeng?" ujar Kafka setengah mengejek. Tata terhenyak. "Sudahlah, Ta. Jalani dulu. Kamu ingat, dulu kamu pernah menghadapi yang lebih parah daripada ini?" tanya Kafka lagi. Senyum usil masih menggantung di sudut bibirnya.
Tata mengangguk. "Nah, kamu bisa melalui itu, lantas kenapa kamu tidak bisa melalui ini?" tanya Kafka lagi. Pandangan mata Tata tampak menerawang. "Benar juga ya, Kaf. Aku dulu pernah begitu hancur sampai aku nggak yakin bisa bangkit lagi. Tapi berkat kamu, Bunda dan kakakku, aku masih bisa bangkit lagi," akhirnya Tata membuka mulut.
Kafka mengusap kepala Tata. "Sudahlah, kamu toh tidak sendirian. Kamu masih tetap bisa mengandalkan kami seperti dulu. Kamu suka masak kan? Nah, kalau pacarmu itu memang sedang sibuk, kamu bisa mengajak Bunda melakukan eksperimen resep misalnya. Aku siap menampung makanannya kok," ucap Kafka lucu. Tata mulai bisa tertawa. "Atau kalau Bunda sedang nggak bisa juga, kamu bisa mengajak Kak Tito bermain basket kan?" sambung Kafka lagi. Tata mengangguk bersemangat. "Kamu juga masih punya aku, Ta. Kapanpun kamu butuh aku, just say it and i'll be there," Kafka mengakhiri penuturannya. Tata memandang sahabatnya sejak SD ini penuh terimakasih.
"Aku tau, Kaf. Aku tau aku selalu bisa mengandalkan kamu," ucap Tata. Kafka mengangguk. Tata sudah dianggapnya seperti adik sendiri. Apapun yang bisa dia lakukan untuk Tata, pasti akan dia lakukan.
"Aku tahu, apa yang membuatku kesal seperti ini, Kaf..." ucap Tata tiba-tiba. Kafka menoleh. "Apa?"
"Aku menaruh harapan terlampau tinggi padanya, jadi hal terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan belajar menurunkan standar dan persiapkan diri menerima apa adanya..."
Kafka menatap Tata kagum.
-ooh another spontaneous short story! :D-
-copyright : Aulia Akmalina.- :D
Categories
CeRpenD...,
FeeLin9zzz,
GiLa-GiLaanD,
sakidt hati...
Langganan:
Postingan (Atom)